Thursday, February 7, 2008

Malam PUISI-PUISI CINTA SAPARDI DJOKO DAMONO, 14 & 15 Februari 2008, TIM, pk. 20.00


PEMBACAAN DAN MUSIKALISASI PUISI SAPARDI DJOKO DAMONO

Sebagai penghormatan atas pencapaian dan dedikasi Sapardi Djoko Damono di bidang sastra, Pusat Kesenian Jakarta akan menyelenggarakan acara bertajuk ”Puisi-puisi Cinta Sapardi Djoko Damono”. Acara ini akan dilaksanakan pada tanggal 14 dan 15 Februari 2008, jam 20.00 di gedung Graha Bhakti Budaya Taman Ismail Marzuki.

Di samping dikenal luas sebagai seorang guru besar dan kritikus sastra yang handal, Sapardi Djoko Damono juga merupakan salah satu dari sedikit penyair Indonesia yang sangat tenar. Karya-karya puisinya banyak dikutip orang untuk ucapan selamat ulangtahun, undangan perkawinan, surat cinta, serta berbagai kepentingan lain yang pribadi sifatnya.

Dengan kepiawaian seorang maestro, Sapardi menuangkan pengalaman puitiknya dalam bahasa yang jernih dengan pilihan kata yang sederhana, namun selalu berhasil menciptakan imaji yang serta-merta membetot empati pembacanya untuk terlibat lebih dalam dengan karya-karyanya.

Karya-karyanya antara lain: DukaMu Abadi (1969), Mata Pisau (1974), Perahu Kertas (1983; mendapat Hadiah Sastra DKJ 1983), Sihir Hujan (1984; pemenang hadiah pertama Puisi Putera II Malaysia 1983), Hujan Bulan Juni (1994), Arloji (1998), Ayat-Ayat Api (2000) dan banyak lagi. Ia juga menerjemahkan karya-karya sastra dunia seperti: Lelaki Tua dan Laut (1973; Ernest Hemingway), Sepilihan Sajak George Seferis (1975), Puisi Klasik Cina (1976), Lirik Klasik Parsi (1977), Afrika yang Resah (1988).

Khususnya sejak penerbitan kumpulan Hujan Bulan Juni, yang disusul peluncuran album musikalisasi puisi karya-karyanya dengan judul yang sama, Sapardi Djoko Damono tidak ubahnya virus yang menyebar begitu cepat, memaksa orang untuk benar-benar menoleh ke karya sastra puisi.

Acara ini akan didukung oleh Ari-Reda, Jose Rizal Manua, Ine Febriyanti, Cornelia Agatha, Ags. Arya Dipayana, Lab. Musik Jakarta dan Paduan Suara Gita Swara Nassa. Sang penyair akan hadir dalam acara tersebut, untuk memberi kesempatan bagi masyarakat mengenal lebih dekat penyair pujaan mereka.

Harga tanda masuk untuk acara ini adalah Rp. 50.000 dan Rp. 30.000. Untuk informasi lebih lanjut dan pemesanan tiket dapat menghubungi Pusat Kesenian Jakarta TIM di telepon (021) 31937325 dan 31934740.


Penanggungjawab Acara:
Jose Rizal Manua (0811833161)
Ags. Arya Dipayana (0818709075)

Wednesday, May 16, 2007

becoming dew tiba di London

Pada suatu hari, Hendiarto --teman kami-- berangkat ke London. Yes, Hendiarto of Etnobook & Etnogallery. Bersamanya, ia bawa dua puluh cd :becoming dew. Sesampai di sana, cd dibagikan kepada banyak teman. Salah satunya kepada Liston.

".......dari tepi sungai Thames, di resto depan Tate Gallery, sambil makan
siang dengan Guiness+Heineken, aku dan Liston berangan tentang sukses
karir A+R...., ah semoga itu bisa diwujudkan... "[Hnd]
-- Hendi, aku tahu restoran itu: bir-nya memang melimpah, dan sup labunya yang hangat, luarbiasa! Berjalan sedikit, dan kau akan sampai di Millenium Bridge. Betul?

Pertemuannya dengan Liston tak berhenti pada makan siang. CD kami masuk tas Liston, lalu diputar di BBC, tempat Liston bekerja. Suatu sore, ketika perut sedang sangat tidak bersahabat, Liston menelepon. Kami mengobrol tentang pembuatan album, tentang lagu, tentang puisi. Banyak. Dan inilah hasilnya. Anda bisa klik ke www.bbcindonesia.com atau mencoba link yang terpasang, atau membaca yang tertulis di sini.

12 sajak di Becoming Dew
Becoming Dew
Musikalisasi 12 sajak Sapardi Djoko Damono
Sajak-sajak Sapardi Djoko Damono sudah berulang kali digubah ke dalam lagu, dan Ari Reda juga bukan pertama kalinya terlibat.

Namun Becoming Dew yang berisi 12 sajak Sapardi Djoko Damono, merupakan album komersial pertama Ari Reda.

Menurut Reda, yang sebelumnya pernah menjadi penyanyi sekaligus produser dalam musikalisasi puisi Gadis Kecil, kali ini musiknya lebih sederhana dengan petikan gitar Ari Malibu.

"Mungkin karena musiknya sederhana, sajak-sajaknya jadi lebih keluar," kata Reda kepada BBC Siaran Indonesia.

Reda juga merasa bahwa kali ini dia bisa tampil lebih santai karena sebelumnya dia lebih direpotkan oleh urusan-urusan tehnis.

Walau album Becoming Dew amat khas, namun Reda melihat ada pasar baru yang sebelumnya tidak ada.

"Penggemar kami mahasiswa dan juga eksekutif muda yang sebelumnya tidak mengenal Ari Reda," tambahnya.

Saya pernah mencoba irama rock untuk Lima Sajak Empat Seuntai, tapi Pak Sapardi tak suka
Ari Malibu

Ari Malibu dan Ari Gaudiamo pertama kali bertemu dan menyanyi pada tahun 1982, namun lebih banyak di lingkungan kampus Universitas Indonesia.

Seluruh sajak-sajak dalam Becoming Dew digubah oleh beberapa orang, antara lain AGS Aryadipayana, Budiman Hakim, maupun Ari Malibu dan Reda Gaudiamo sendiri.

Irama melankoli mendominasi album ini dan menurut Ari Malibu memang irama itulah yang cocok untuk sajak Sapardi.

"Saya pernah mencoba irama rock untuk Lima Sajak Empat Seuntai, tapi Pak Sapardi tak suka. Jadi mungkin ya irama melankoli dan seperti itu yang cocok," kata Ari.

Adapun Sapardi Djoko Damono mengatakan tidak ada perasaan istimewa dengan Becoming Dew karena karyanya sudah sering dijadikan lirik lagu.

Apakah tidak kuatir kalau sajaknya kelak dikenal lebih sebagai lirik lagu?

"Bagi saya tidak apa-apa, barangkali memang cocok untuk lirik lagu," katanya sambil tertawa lepas.


Sejauh ini kami berjalan. Jarak semakin jauh dan pemandangan semakin indah. Tentu tak akan pernah tercapai tanpa bantuan teman yang begitu penuh cinta mendukung Ari & Reda.

Hendi dan Liston, TERIMA KASIH!


Salam,
r


Monday, April 16, 2007

Tentang Upload & Download Lagu di Dunia Maya

Setelah menulis sedikit tentang rasa tak karuan menemukan 'Gadis Kecil' dengan mudah bisa di-download di dunia maya, saya menerima tanggapan dari beberapa teman. Ada Yo yang berbagi pengalaman: puisinya dicontek habis dan ditempelkan pada undangan kawin. Nama pengantin jadi nama penyairnya. Juga dari J A F Rane, sahabat luarbiasa saya yang bekerja di RSI - Radio Singapore International. Selain menyatakan turut berduka, Rane menambahkan berita baru, bahwa :becoming dew pun telah bernasib sama.

Astaga!

Rane lalu menelepon saya. Kami pun bicara soal yang satu itu.
Dan ternyata hasil pembicaraan itu dilansir ke udara. Bila teman-teman ingin membaca bentuk tulisannya, saya sertakan di sini.

Mengupload dan Mendownload Lagu MP3 di Internet?

http://www.rsi.sg/indonesian/pranala/view/20070413112600/1/.html

April 12, 2007

Berbagi lagu-lagu berformat mp3 di internet? Munngkin anda termasuk yang gemar melakukannya. Tapi tahukah anda bahwa itu menyangkut karya cipta orang lain?

Para penggemar musik Indonesia bisa jadi mengenal lagu Aku Ingin yang diambil dari karya puisi penyair terkenal Indonesia Sapardi Djoko Damono. Lagu ini bersama 10 lagu lainnya terdapat dalam album Gadis Kecil, sebuah album musikalisasi puisi karya Sapardi Djoko Damono yang di produksi dan dinyanyikan oleh Reda Gaudiamo dan Tatyana Soebiyanto pada tahun 2005 lalu. Nah, belum lama ini, ketika tengah berkorespondensi dengan seorang temannya di Perancis, Reda Gaudiamo -salah satu penyanyinya- mendapati bahwa lagu itu sudah bisa didownload di internet melalui salah satu situs multiply.com.

Bayangkan, anda sudah berusaha bertahun-tahun, mengumpulkan uang, minta ijin pada sang pemiliki syair, rekaman berbulan-bulan untuk menghasilkan sebuah album, namun kemudian ada orang lain yang dengan mudah menyebarkannya di internet? Reda Gaudiamo tidak perlu membayangkannya. Ada seseorang yang memasang ke 11 lagunya itu di internet dengan menggunakan layanan multiply dot com yang memamng memungkinkan siapapaun mengupload lagu-lagu berformat digital seperti mp3 dan kemudian bisa didownload siapapun juga tanpa harus membeli cd aslinya. Reda kemudian meninggalkan pesan kepada si pemilik situs multiply tersebut agar yang bersangkutan meminta izin kepada sejumlah orang yang terlibat produksi album itu. Apa reaksi yang didapatnya?

Si pemilik situs multiply justru balik marah-marah karena merasa terganggu. Nah, masalahnya yang terjadi disini adalah fakta bahwa si pemilik situs multiply marah-marah karena merasa terganggu oleh orang yang justru adalah pemilik asli karya tersebut menunjukkan bahwa jangan-jangan memang banyak yang tidak tahu bahwa menyebarkan karya orang lain dalam hal ini lagu berformat mp3 tanpa izin itu adalah melanggar hak cipta.

Menurut Rapin Mudiardjo, SH dari Information and Communication Technology Watch atau ICT Watch, secara hukum hak cipta akan langsung muncul begitu karya itu selesai dibuat. Jadi tidak perlu didaftarkan lagi karena otomatis sudah muncul. Tentu asal si pemilik karya cipta bisa membuktikannya.

Karena itulah pelanggaran hak cipta tentu saja adalah pelanggaran hukum. Masalahnya, di Indonesia, peraturan hukum yang mengatur pelanggaran hak cipta secara digital ini menurut Rapin belum banyak disentuh

Menyebarluaskan karya cipta orang lain tanpa izin di internet memang melanggar hukum. Tapi menurut aturan hukum yang berlaku di Indonesia, -seperti penjelasan Rapin tadi- hukum baru bisa menyentuh jika yang terjadi adalah penyebarluasan karya orang untuk mengambil manfaat secara ekonomi. Ini yang menjelaskan mengapa orang jualan cd berisi MP3 atau lagu bajakan bisa ditangkap, tapi jika itu disebarluaskan di internet tanpa maksud untuk menjualnya, ini belum disentuh oleh aturan hukum.

Namun anda yang gemar mengupload dan berbagi lagu mp3, jangan keburu senang dulu. Minimnya aturan hukum bukan berarti tidak ada yang bisa diperbuat. Dalam kasus yang dialami Reda Gaudiamo misalnya, jika kita membaca aturan main yang disediakan oleh Multiply.com, maka kalau misalnya sang pemilik karya cipta bisa membuktikan kepada multiply bahwa karya yang di sebarkan lewat layanan mereka itu adalah miliknya, maka proses hukum bisa dijalankan. Server multiply memamgn bisa jadi secara fisik tidak berada di Indoensia, namun jangan lupakan bahwa IPR atau intelectual property rights atau hak cipta intelektual itu adalah hukum internasional

Dengan kata lain, walaupun akan memerlukan proses yang panjang dan mungkin rumit, jika sang pemilik karya itu ingin berjuang menuntut haknya yang dilanggar orang lain, jalan masih terbuka lebar walaupun hukumnya belum banyak diantisipasi di Indonesia.

Nah, kembali ke kasus yang dialami Reda Gaudiamo tadi, ketika menyadari karya nya disebarkan orang lain tanpa izin, akankah ia menuntut secara hukum? Dengan tegas ia mengatakan tidak terpikirkan untuk sampai ke sana.

Bagi Reda lebih dari soal hukum, yang justru mengkhawatirkan baginya adalah karena pelanggaran hak cipta ini bisa terjadi karena orang belum banyak tahu atau bahkan karena budaya melanggar hak cipta itu sudah membudaya menjadi sebuah perilaku. Tapi apakah itu akan mencegahnya untuk terus berkarya?

Ya, banyak yang mengatakan bahwa dunia internet adalah dunia yang bebas. Di alam maya atau alam saiber orang bebas berpendapat dan bebas menjadi siapa saja atau melakukan apa saja. Tapi jangan pula lupakan bahwa mentang-mentang bebas, berarti kita bisa melakukan apa saja dan tidak memberikan penghargaan kepada karya orang lain. Ini lebih dari sekedar soal hukum. Ini soal penghargaan pada apa yang telah dilakukan susah payah oleh orang lain, karena tentu anda juga ingin dihargai upayanya oleh orang lain juga, bukan?"

dikutip sesuai aslinya atas ijin RSI
sumber:http://www.rsi.sg/indonesian/pranala/view/20070413112600/1/.html

Demikianlah...
Seperti yang sudah tersampaikan lewat omong-omong di radio-nya J A F Rane, urusan bajak-membajak tak akan menyurutkan langkah kami. Langkah saya. Ketika sudah sampai di sini, berhenti bukan pilihan yang perlu dipertimbangkan. Rem sudah putus sejak lama. Saya hanya berharap bahwa siapa pun yang ingin mendown-load (juga yang mengupload) lagu-lagu milik siapa saja, mungkin perlu berfikir kembali. Perlukah itu dilakukan? Bagaimana bila yang dilakukan adalah mendukung para pembuat musik. Misalnya dengan membuat review, mempromosikan, mengajak teman-teman untuk memiliki sendiri album/cd yang disuka....
Itu yang saya usulkan sambil kita semua belajar menghargai karya yang sudah diciptakan dengan susah payah.

Dan untuk J A F Rane: terima kasih yang amat sangat sudah mengangkat masalah ini ke udara. Terima kasih untuk dukungan yang tak pernah surut.

selalu,
r

Monday, March 19, 2007

pada suatu hari...

saya mendapat kabar,
bahwa lagu musikalisasi puisi album terdahulu (gadis kecil)
dengan mudah bisa di-download via internet.

pada suatu hari, saya mencoba berkunjung ke alamat itu
dan terbukti bahwa kabar yang disampaikan itu benar adanya.
lalu bertanyalah saya, adakah pemuatan lagu itu
telah dimintakan ijinnya pada yang membuatnya?
atau setidaknya pada pemilik sajak?

jawaban yang datang tak bisa dibuka.
tetapi setelah itu, saya tahu bahwa sang pelaku marah besar.
saya telah mengganggu kerjanya. Begitu katanya...

saya tak mengerti.
bukankah harusnya saya yang harusnya boleh berapi-api?
(tapi toh tidak saya lakukan).
bukankah harusnya saya boleh mengejar jawaban
dan alasan mengapa ini terjadi?
(tetapi tak bisa dilakukan
karena pelakunya kemudian menghilang dari ruang maya)

hari ini,
saya kembali melihat apa yang telah kami perbuat selama ini.
mungkin buat banyak orang, ini kerja kecil.
tetapi buat kami, ini sungguh istimewa.
karena kami membuatnya dengan hati, dengan rasa,
dengan tenaga dan segala yang kami punya.
begitu selesai, kami ingin karya ini bisa dinikmati banyak orang
dengan cara yang seharusnya.

ketika kemudian ada yang mengambilnya begitu saja,
tanpa memberi kabar terlebih dahulu,
hati kami terluka.

sangat.

r








Monday, February 12, 2007

14 Februari: Hari Burung Kolibri Merah Dadu


Teman-teman,
Klub Sastra Bentang mengundang Anda dalam acara
peluncuran kumpulan cerita cinta Kurnia Effendi, Burung Kolibri Merah Dadu,
pada tanggal 14 Februari 2007, jam 19.00
di MP Book Point, Jl. Puri Mutiara Raya 72,
Jeruk Purut, Jakarta Selatan.

Jadikan malam itu sebagai ajang bernostalgia Back to Eighties, silaturahmi antarkomunitas dan miliser (antara lain Apresiasi Sastra, komunitas Leo Kristi, FSRD ITB, Komunitas Sastra Indonesia , BungaMatahari, dll) untuk berbincang perkara cinta.

Mengapa cinta? Karena setiap penciptaan dan
kehidupan mustahil tumbuh tanpa cinta.

Acara ini dimeriahkan dengan senandung dan pembacaan
cerpen bersama Feby Indirani, Wulan Guritno,
dan Anya Rompas. Senandung lagu puisi oleh Ari.Reda (mau request lagu?)
Pembahasan perjalanan pengarang disampaikan oleh
Arya Gunawan dan Ryana Mustamin.
Dihiasi happening art oleh Indra Gunadharma,
dan sejumlah doorprize menunggu kehadiran Anda.

Bagi yang ingin menjadikan buku ini sebagai kado
atau souvenir, dapat diperoleh di toko buku Jakarta ,
Bandung , Yogya, dan sekitarnya.
Menyusul kota-kota lain di Indonesia.

Sunday, January 28, 2007













:becoming dew, sudah lahir.
Sudah dipestakan.
Sudah dirayakan bersama.

Dan semua itu terlaksana berkat bantuan banyak teman dan sahabat kami yang luarbiasa!

Ade Latief, yang pertama kali mencetuskan ide (dan ngotot pula!) agar Ari Reda kembali menyanyi dan sebagai konsekwensinya, hampir setiap malam minggu rumahnya yang lapang di Bintaro kami jadikan tempat latihan tarik suara (sampai jam 11 malam... apa pikir tetanggamu, ya De?)

Eddie Prabu : untuk percakapan panjang di setiap malam dan pagi, dukungan semangat yang tak pernah surut untuk apa pun yang ingin dikerjakan oleh pasangan hidupnya. TOUT!

AGS Arya Dipayana, yang tidak henti-hentinya memberi dorongan semangat, membuatkan lagu dalam tempo yang sesingkat-singkatnya (termasuk re-make Lima Sajak Empat Seuntai), dan mengatur malam peluncuran :becoming dew menjadi begitu meriah! Canggih banget! Hebat banget! Belum lagi bantuan kagetan yang tak terduga di sepanjang perencanaan dan pelaksanaan pertunjukkan dan dikerjakan diam-diam bersama The 'A' team-nya.

Soca Sobhita, gadis muda yang selalu siap memberi nasihat dan semangat ketika ibunya mulai emosi, tak sabaran atau malas latihan.

Budiman Hakim: untuk Metamorfosis dan Pada Suatu Pagi Hari (ternyata banyak yang suka, Bud!) dan penyebaran undangan yang luar biasa, sampai Wapress hampir meletus

Cak Sukardi Rinakit, yang sejak pembuatan album terdahulu sudah membantu segala sesuatunya.

Dharmawan Handonowarih, kompor api biru yang rajin memompakan semangat, sampai ngotot membuat pertunjukkan kami berdua bila bersedia nyanyi lagi, lagi dan lagi.... apa pun risikonya!

EKSOTIKA KHARMAWIBHANGGA INDONESIA alias EKI -- lengkap dengan Rusdy Rukmarata, Sujiwo Tedjo, Aiko Senosoenoto, Iwan Setyawan, Frisca, Tinny, Aldi, Jonathan dan teman-teman di jalan Padang, yang dengan sangat sungguh plus telaten mengatur dua orang keras kepala ini mulai dari plan marketing sampai menyediakan tempat yang sangat bagus akustiknya untuk GR dan latihan di jam-jam aneh (semoga sabar selalu....).

J A F Rane yang membuatkan blog buat kami, lengkap pake foto dan terus menyebar luaskan info terkini tentang Ari Reda (you're marvelous, J A F!).

Aulia yang super semangat membantu mulai dari mencari cd box, handuk kecil, kaset, obat batuk China di Kota yang ruwet dan macet, mencatat setiap hasil pertemuan, menemani saat latihan dan rekaman dan akhirnya kebagian tugas memasukkan cd ke dalam kotaknya.

M. Umar Muslim, dengan lagu-lagunya yang membuat banyak orang jadi mengenal kami berdua, dan telah bersedia datang jauh-jauh dari Depok bersama Utty, istri tercinta.

Mimi Larasati, untuk Ketika Kau Tak Ada. Semoga berita ini sampai juga meski kau sedang berada di Paris.

Mas Yoyik & Mas Noor yang memberi kami begitu banyak kemudahan dan bantuan yang sungguh hebat, sehingga :becoming dew bisa lahir dengan selamat di Wapress.

Wiwiek --sang kekasih yang penuh cinta, Gentha --putri sulung yang ikut mengisi acara dengan baca puisi, Jerras sedang sakit, mengirim doanya untuk kesuksesan ayah dan partner nyanyinya, serta Gazza, the little warrior!

Bapak Sapardi Djoko Damono yang mengijinkan kami berdua menyanyikan lagi dan lagi sajak-sajaknya.

John H. McGlynn, yang mengijinkan terjemahan sajaknya kami jadikan lagu.

Happy Salma & Wulan Guritno untuk kesediaannya datang dan membacakan sajak

Harris Saus dengan suara indahnya menggetarkan Wapress lewat pembacaan sajak-sajaknya (mungkin harus menyanyi juga suatu hari nanti)

dan kehadiran ...
Neenoy dan Dissy, yang dengan tekad bulat membelokkan arah roda dari tujuan pulang ke Wapress.
Alfons, Conny dan dua buah hatinya
Yully dan Yanusa yang ngebut dari airport
Corinna Manangka, teman SMP ku yang jauh-jauh datang sendiri!
Bebe, Ali & Raihan
Dani Wusono
Eva, Hendro, Sekar & Danang
Hendi of Etno Book
Q-Bro &
Daru
Gigin

Tonny Q
Zul Aradia
Teman-teman di Wapress
yang sejak siang sudah kerja keras beberes panggung
Teman-teman dari berbagai media massa
Tim Putri Everest

The Blogspots Community
Teman-teman
jaman UI Ramawamangun & Depok
teman main, teman kerja, teman gaul, teman keluarga, teman di milis dan internet,
pecinta puisi, pecinta musikalisasi...
Semua yang hadir
malam itu dan yang mendoakan agar acara berlangsung lancar
dan selamat dari hantaman hujan...

CINTA KAMI UNTUK KALIAN SEMATA!

Tanpa kalian, kami mungkin masih duduk di ambang jendela,
mengenang masa lalu, tak berbuat apa-apa.


Terima kasih. Amat sangat
Semoga segala kebaikan,
cinta & damai
beserta kalian.
Selalu.

a.r











Monday, January 22, 2007

: becoming dew



Akhirnya, kami berdua punya album sendiri.
(Meminjam istilah Cak Sukardi Rinakit,
kami berdua sudah sampai di tikungan terakhir.
Karena baru sekarang bikin album, padahal sudah nyanyi-nyanyi
nggak karuan dari tahun '82
!)

: become dew - begitu judulnya.
Terambil dari baris terakhir sajak Sapardi Djoko Damono, Don't Tell Me, terjemahan John H. McGlynn dari sajak Jangan Ceritakan.

Di dalamnya ada 11 lagu lain, yang semua terambil dari
sajak-sajak Sapardi Djoko Damono.
Akulah Si Telaga
Kartu Pos Bergambar Jembatan Golden Gate, San Francisco.
Lima Sajak Empat Seuntai
Pada Suatu Hari Nanti
Ketika Kau Tak Ada
Sonnet: X -- juga dalam bahasa Inggris
Pada Suatu Pagi Hari
Metamorfosis
Ketika Berhenti Di Sini
dan sepasang lagu yang sulit buat dilepas --setidaknya sampai sekarang:
Aku Ingin dan Hujan Bulan Juni.

Dari sekian banyak lagu itu, banyak yang lagu lama dan hampir terlupakan karena
tak pernah dinyanyikan. Kami rasa, teman-teman perlu mengenal
lagu-lagu itu. Seperti Ketika Kau Tak Ada, yang komposisinya
dibuat oleh Mimi Larasati. Aslinya lagu ini dibuat untuk piano.
Di album ini digubah untuk gitar.

Kemudian Pada Suatu Pagi Hari dan Metamorfosis yang keduanya
dikomposisi oleh Budiman Hakim. Ya, Budiman Hakim of Macs909 itu.
Di versi asli, dinyanyikan oleh Reda dan Dina Nasution.
Kini Dina sudah berada di Belanda.
Sedangkan Metamorfosis adalah komposisi yang dibuat khusus
untuk Neno Warisman. Di album ini kami ubah sedikit menjadi
komposisi untuk duet.

Lalu ada Lima Sajak Empat Seuntai.
Dulu, tahun 1989 itu, Ari membuatnya dengan sentuhan rock.
Waktu itu tujuannya untuk melengkapi jenis musik yang ada
di album Bulan Apresiasi Sastra. Selain yang bergaya balada, rock pun ada.
Ternyata komposisi itu membuat Pak Sapardi terkaget-kaget.
Dan sejak album Hujan Bulan Juni dirilis tahun 1989, lagu itu
tak berani kami nyanyikan lagi. Takut Pak Sapardi pusing mendengarnya.
Di album ini, lagu itu kembali muncul. Tetapi sudah tidak jadi lagu rock lagi.
AGS Arya Dipayana menjadikannya lagu baru.
(Rane, semoga kau suka dengan komposisi ini...).

Yang agak lain dari album sebelumnya, di sini kami selipkan
dua sajak Pak Sapardi yang telah diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris
oleh John H. McGlynn dari Yayasan Lontar.
Don't Tell Me (komposisi lagu: Reda)
dan Sonnet: X (komposisi lagu: Ari).

Dan kemudian album ini ditutup dengan lagu Ketika Berhenti Di Sini,
yang dikomposisi oleh AGS Arya Dipayana.

Nah, dengan lahirnya :becoming dew, kami berdua mengundang teman-teman
untuk merayakan kehadirannya pada hari Jum'at 26 Januari 2007,
di Warung Apresiasi/WAPRES Bulungan, pukul 20.00

Bila sempat, datanglah.

Kami tunggu dengan penuh harap.
ari . reda
ari.reda@gmail.com

CD :becoming dew dapat diperoleh di
  • Warung Apresiasi/WAPRESS, Bulungan
  • Toko Buku Taman Deklamasi, Jose Rizal di Taman Ismail Marzuki
  • Toko Buku Aksara
  • SOHO, Plasa Semanggi
atau langsung hubungi
EKSOTIKA KHARMAWIBHANGGA INDONESIA/EKI
Jl. Padang 30, Jakarta
Telp. 021 831 2377 - email eksotika@indo.net.id
untuk pengiriman langsung