Monday, March 9, 2009

Menyanyikan Puisi Setiap Bulan

Mulai bulan Desember tahun lalu, Ari Reda kembali tarik suara cukup rutin, tepatnya sebulan sekali.
Setiap Jum'at terakhir di setiap bulan, kami muncul di NEWSEUM CAFE, di Jl. Veteran I/33, Jakarta.
Cafe yang terletak di lantai dua dari sebuah bangunan tua (tempat Matahari & Westerling pernah tinggal) ini, tak jauh letaknya dari Ice Cream Ragussa yang terkenal itu.

Pada hari Jum'at, mulai dari jam 8 malam, kami menyanyi di sana.
Bulan Desember, kami menyanyikan puluhan lagu-lagu lama jaman kuliah dulu.
Bulan Januari, kami mengusung tema Moon, Stars and Dark Blue Sky dengan bintang tamu Jubing. Ya, maestro gitar kita.
Dan bulan Februari yang baru lalu, AGS Arya Dipayana yang mengkomposisi Aku Ingin, jadi bintang tamu. Ia menghadirkan belasan nomor lagu. Baik dari puisinya sendiri yang dibuat lagu sendiri, puisinya yang lagunya dibuat oleh orang lain, dan puisi orang lain yang ia buatkan lagunya.

Di bulan Maret ini, kami akan membawakan lagu-lagu puisi kembali.
Sekali ini, kami ingin membawakan musikalisasi dari sajak-sajak Sapardi Djoko Damono.

Bila sempat, mampirlah!
Tg. 27 Maret 2009
Newseum Cafe, Jl. Veteran I/33, Jakarta
(dekat Istiqlal & Ice Cream Ragussa)
Dari jam 8 malam hingga selesai.


Sampai jumpa, Teman!
r

Saturday, January 24, 2009

Duet Ari & Reda

Dharmawan Handonowarih


Saya sudah bisa membayangkan. Lagu yang bakal dinyanyikan. Puisi-puisi itu. Suara yang bening dan bergetar. Bahkan posisi duduknya. Yang perempuan akan menutup sebagian telinganya. Atau membetulkan letak kaca mata. Ada buku lagu di atas music stand. Ada senyum tiap kali selesai menyanyi. Dan kesederhanaan itu. Sudah saya bayangkan. Tapi ketika ada berita mereka akan manggung, toh saya akan berusaha hadir. Menonton kembali. Lalu menunggu lagu itu dinyanyikan. Lagi.

Seingat saya, saya pertama kali nonton mereka pada 1982 di halaman Taman Sastra FSUI di Rawamangun. Di bawah pohon flamboyan yang kering. Mereka menyanyikan Here, There, And Everywhere. Saya duduk di pinggir got. Semua penonton diam. Mungkin tahan napas. Lalu keplok panjang. Keduanya lantas menghilang. “Orang sederhana dengan lagu sederhana, tapi begitu istimewa.”

Sejak saat itu, saya berharap bisa mendengar lagi. Memang, saya melihatnya melintas di depan kantor pos kampus. Memang, langkahnya cepat seperti dikejar orang. Memang, masih dengan T-shirt, celana jins, dan sepatu karet. “Itu dia penyanyi dengan suara hebat.” Tapi kapan dia nyanyi lagi dengan rekannya yang keriting itu?

Tujuh tahun sesudahnya, saya baru bisa nonton lagi. Pada 1989, saat bekerja di HAI, saya datang ke Pesta Seni Bulungan. Bukan tugas kantor. Saya mau melihat lagi duet maut itu. Juga memotret dengan kamera pinjaman. Dan sehari kemudian terjadilah adegan itu, di tempat saya kerja, Palmerah Selatan lantai 5.

“Gue mau menulis Pesta Seni Bulungan,” kata Elwin Siregar, freelancer baru, pindahan dari Femina Grup, yang waktu itu menulis dengan inisial Nari, kepada Iwan, teman SMP-nya, yang menjadi redaktur di HAI.
“Emang ada fotonya, Tak?” tanya Iwan (Iwan memanggil temannya itu dengan ‘Batak’).
“Tuh, dia kan kemaren motret,” kata Elwin sambil menunjukkan dagunya ke arah saya (dia waktu belum kenal saya).

Elwin lalu menuliskan di HAI No. 52 yang terbit 29 Desember 1987. Sebuah tulisan di halaman belakang:

Yang justru merebut simpati penonton adalah pasangan Ari dan Reda. Tampil seadanya, tanpa pretensi apa-apa, pasangan ini mengundang keplok penonton. Padahal, mereka juga mengalami gangguan pada sound system ketika meluncurkan nomor-nomor dari Paul McCartney dan Art Garfunkel. Cuma, itulah, mereka tak hendak tampil profesional. Sesuatu yang mungkin berlebihan di dalam pesta seni yang sekaligus juga tempat reuni.

Ya, yang saya maksud duet ini adalah Ari & Reda. Nama yang enak diucapkan, seperti mendengar kemerduan suaranya. Bukan hanya karena ada R di tengah, tapi juga A di bagian belakang. “Menyanyi tanpa pretensi apa-apa”, akhirnya terpatri di kepala. Tiap kali menonton mereka.

Dia di kantor saya

Tahun berganti, si penyanyi itu akhirnya jadi rekan kerja. Baru tahu sekarang, ada nama tengahnya: Linda (pertama mendengar, agak menggelikan, karena sama dengan merk mesin jahit ibu saya). Ia menulis film, bikin terjemahan cerpen asing, dan banyak lagi. Termasuk ikut ke Pesta Pelajar HAI di Malang yang meriah. Tapi pertemuan dengan penyanyi ini tidak lama. Ia hamil, cuti, dan menghilang. “Maaf saya tidak bisa bergabung lagi. Sejak ada si kecil, saya seperti ‘paralyzed,” katanya, dalam sepucuk surat ditulis tangan. Anehnya, justru setelah pindah ke tempat kerja yang lain, dia malah sering mampir. Tentu saja, teman-teman di HAI setengah memaksa ia nyanyi.

Elwin selalu minta lagu yang sama, Mother of Mine. Agam Jaya ikut nyanyi dengan suara fals. Anton Diaz meminta lagu lain, sambil bercakap dalam bahasa Perancis (mereka satu jurusan). Sementara Daus, fotografer jebolan jurusan Rusia, mula-mula menikmati lalu dilanjutkan dengan tidur. Dan, mendengkur. Abi Hasantoso minta lagu kesayangannya, Bridge Over Trouble Water, sembari nimbrung di bagian refrain (dan kehabisan napas). Daru Paramayuga menghentikan kerja desainnya, karena mau mendengarkan getaran vokal Reda saat membawakan The Boxer (untuk ditiru keesokan harinya bersama saya, dan tentu saja gagal).

Ari Malibu baru saya kenal sesudahnya. Waktu itu ia membuat album dengan bendera LFM (Last Few Minutes). Denny MR, penulis musik di HAI, menyebut grup yang juga didukung oleh Ridho Hafiedz (sekarang gitaris Slank) ini sebagai grup rock alternatif. LFM diajak HAI ke ajang Pesta Pelajar di Jakarta dan Bandung. Banyak ngobrol dengan Ari, saya pun baru tahu kalau ia punya aksen seperti orang pesisir Jawa Tengah alias Tegal. Waktu akan manggung di stadion Gasibu, Bandung, saya keluar hotel Santika. Memborong banyak lilin dari kios rokok. Lebih dari sepuluh pak. Maunya, pas lagu Warik, saya akan bagikan lilin itu ke penonton di bagian depan. Sayang, panitia melarang. “Nanti malah buat bakar-bakaran.” Mungkin panitia tahu, saya berlebihan. Tapi sampai sekarang, lagu Warik memang tetap enak. Mungkin hanya Ari Malibu yang cocok melantunkannya. Keindahan suara ini yang muncul kembali ketika ia membawakan Sonnet: X pada album Becoming Dew.

Duet itu kami undang

Dari sekadar penonton, kenal sebagai rekan kerja, akhirnya datanglah kesempatan sebagai pengundang. Garin Nugroho diundang Teater Utan Kayu untuk membacakan puisi-puisi cinta. Ia bertanya, harus tampil bagaimana. Lalu muncul ide agar ada iringan duet nyanyian cinta dari Ari & Reda. Kami berkumpul di Plasa Senayan. Membahas semua kemungkinan. Sayangnya ide itu tidak berlanjut.

Kesempatan kedua datang saat bersama Enrico Halim, kami mengusahakan dibukanya kembali Teater Dalam Gang Tuti Indra Malaon, sebuah gedung pertunjukan mungil milik Teater Populer. Lokasinya di gang Kebon Kacang, tidak jauh dari bak penampungan sampah. Kami mendiskusikan, pembukaan apa yang pas. Teguh Karya, pemimpin Teater Populer, adalah maestro film yang hidup dan bersikap dalam kesederhanaan. Tapi melahirkan film-film yang bermutu, dengan tema-tema yang tidak jauh dari kehidupan sehari-hari. Waktu itu sedang sakit-sakitan. Setelah mendiskusikan berbagai hal, akhirnya ketemu juga: pertunjukan Ari & Reda, pemutaran film Ibunda, dan menikmati bubur ayam bikinan ibu Josephine Komara (Obin). Klop.

Teguh Karya waktu itu masih hidup dan turut menyaksikan. “Tempat yang kayak gini nih kan diperlukan,” katanya terbata. Akulah Si Telaga, dipersembahkan oleh Ags Aryadipayana kepada maestro film itu. “Karena Pak Teguh adalah Telaga juga,” kata sutradara teater itu. Malam itu tampil sisi indah kesederhanaan. Sebelum manggung, Ari & Reda latihan kecil di teras belakang. Ari datang dari Ciputat yang macet, Reda habis deadline di majalah Cosmopolitan. Saya siapkan Coca Cola dingin untuk keduanya. Tapi?

“Elo ada-ada aja Wan,” kata Ari. “Masak mau nyanyi dikasih es.”
“Kita biasa makan ini,” kata Reda sembari mengunyah kencur. Kencur? Rempah-rempah yang berbau menyengat itu dikunyah Reda mentah-mentah. Katanya, akan membuat suaranya lebih terjaga.

Malam itu mereka membawakan lagu-lagu dari theme song sejumlah film. Termasuk film Cinta Pertama, yang diciptakan Idris Sardi. Di samping kebiasaan makan kencur (yang saya ketahui juga dilakukan saat ketemu di belakang panggung Newsmuseum), saya juga tahu bagaimana sensitivitas suara dan pendengaran Ari. Waktu itu, ia mencek dengan teliti peralatan sound system. Dan nyaris tanpa masalah. Jauh hari, Reda sudah berpesan kepada saya, “Sebaiknya pakai sound system yang biasa digunakan Ari supaya dia bisa klop.” Tata suara yang buruk, masih pesan Reda, akan membuat Ari kehilangan mood. Dan itu berbahaya. Nasihat ini saya turuti. Pertunjukan berlangsung sukses. Penonton bahkan ikut bernyanyi di ruang teater berbentuk tapal kuda itu. Udara panas. AC belum dipasang. Tiap penonton dipinjami kipas sate. Pertunjukan usai, obrolan berlanjut di teras belakang. Besoknya, foto duet ini muncul di harian Kompas.

Berkumpul Lagi
Sampai akhirnya terdengar kabar Ari sakit. Kalau tidak salah empedunya terganggu. Kabar ini saya ketahui dari Nana, kawan mereka juga. Barangkali ini yang membuat duet itu kemudian jarang muncul. Benarkah Ari bakal susah berduet lagi? Sebelum menjawab ini, saya tanyakan ke Denny MR, teman yang hidupnya dihabiskan untuk mendengarkan musik Indonesia.

Kesan apa yang didapatnya setiap kali mendengar duet ini? “Duet ini istimewa. Suara Ari itu begitu ‘ringan’ dalam arti bening. Klop dengan suara Reda yang agak ‘bergetar’. Mereka cocok dengan lagu-lagu balada. Jangan berikan lagu yang rock,” katanya. Seperti biasa, dia serius. Katanya, lagi, mestinya dalam industri rekaman, suara mereka punya tempat. “Gue enggak tahu ya kenapa mereka nggak masuk industri.”

Entah oleh musabab apa, duet ini pernah terancam pisah. Di sebuah parkiran mobil Palmerah, Ari menumpahkan kekesalannya. Saya tidak mau ikut bertanya. Atau menyelidik. Saya mendengarnya dengan rasa menyesal. Bukankah saya masih menyimpan kemauan, bikin konser dengan judul, “Dengan Kepala Dingin”. (Waktu itu, cuaca politik di Jakarta kisruh dengan banyak pernyataan serba mengancam dari militer. Mungkin mendengar lagu-lagu dari Ari & Reda akan jadi semacam oase. Cari kesejukan sedikit).

Waktu bisa menyelesaikan masalah. Mungkin. Kenyataannya, suatu siang, Reda mengabarkan berita gembira. Duet itu akan nyanyi kembali! Mereka bertemu di Bentara Budaya. Dan ajakan itu meluncur begitu saja. Lalu disanggupi. Kabar yang menggembirakan. Ari & Reda bernyanyi lagi. Sayang, konser di Wapres (Warung Apresiasi) itu tak sempat saya tonton karena mendadak badan meriang.

Hitung sendiri, sudah berapa lama duet ini, sejak awal manggung di taman sastra UI. Mereka telah membentuk komunitasnya sendiri. Seperti dengan sistem sel: temen-temen dari temen-temen-temennya Reda atau temenya temen dari temen-temennya temen Ari. Dari Fakultas Sastra (sekarang FIB), lalu FISIP, termasuk “kampus” mereka yang lain: dunia kerja. Bagaimana menggambarkan dunia kerja ini, suatu kali di kedai kopi Cikini, si penyanyi yang suka berjalan cepat di depan kantor pos itu berkata, “Kalau diitung-itung, kerjaan gue sekarang ini adalah yang ke-13!” Bukan hanya Reda, saya kira, Ari pun mempunyai kesibukan yang tak kalah seru.

Satu dengan yang lain melahirkan teman dari latar yang berbeda-beda. Uniknya, sejauh-jauh langkah mereka, keduanya akan duduk kembali di kursi itu, menghadapi buku lagu, dengan kidung merdu. Seperti penonton-penontonnya: sesibuk-sibuknya, akan berhenti sejenak, begitu ada undangan nonton duet ini. Kapan? Di mana? Si anu ikut nonton juga nggak? Seperti peluit kereta di stasiun pemberhentian. Sebuah jeda untuk menikmati kesederhanaan: lagu, puisi.. dalam suara bening dan bergetar itu. Keren banget tulisan Cenil:

… dinyanyikan oleh orang yang sama, didengarkan bersama orang-orang yang sama. Gembira tak bisa jadi kata yang tepat. Bahagia mungkin lebih dekat.

Saya sudah bayangkan. Lagu yang bakal dinyanyikan mereka. Puisi-puisi itu. Posisi duduk mereka. Ada buku lagu. Ada senyum. Tapi ketika ada berita mereka akan manggung, toh saya akan berusaha hadir. Menonton kembali. Lalu menunggu lagu kesayangan itu dinyanyikan. Lagi. Rindu, haru, seru. Itulah dia, Ari & Reda.

Thursday, February 7, 2008

Malam PUISI-PUISI CINTA SAPARDI DJOKO DAMONO, 14 & 15 Februari 2008, TIM, pk. 20.00


PEMBACAAN DAN MUSIKALISASI PUISI SAPARDI DJOKO DAMONO

Sebagai penghormatan atas pencapaian dan dedikasi Sapardi Djoko Damono di bidang sastra, Pusat Kesenian Jakarta akan menyelenggarakan acara bertajuk ”Puisi-puisi Cinta Sapardi Djoko Damono”. Acara ini akan dilaksanakan pada tanggal 14 dan 15 Februari 2008, jam 20.00 di gedung Graha Bhakti Budaya Taman Ismail Marzuki.

Di samping dikenal luas sebagai seorang guru besar dan kritikus sastra yang handal, Sapardi Djoko Damono juga merupakan salah satu dari sedikit penyair Indonesia yang sangat tenar. Karya-karya puisinya banyak dikutip orang untuk ucapan selamat ulangtahun, undangan perkawinan, surat cinta, serta berbagai kepentingan lain yang pribadi sifatnya.

Dengan kepiawaian seorang maestro, Sapardi menuangkan pengalaman puitiknya dalam bahasa yang jernih dengan pilihan kata yang sederhana, namun selalu berhasil menciptakan imaji yang serta-merta membetot empati pembacanya untuk terlibat lebih dalam dengan karya-karyanya.

Karya-karyanya antara lain: DukaMu Abadi (1969), Mata Pisau (1974), Perahu Kertas (1983; mendapat Hadiah Sastra DKJ 1983), Sihir Hujan (1984; pemenang hadiah pertama Puisi Putera II Malaysia 1983), Hujan Bulan Juni (1994), Arloji (1998), Ayat-Ayat Api (2000) dan banyak lagi. Ia juga menerjemahkan karya-karya sastra dunia seperti: Lelaki Tua dan Laut (1973; Ernest Hemingway), Sepilihan Sajak George Seferis (1975), Puisi Klasik Cina (1976), Lirik Klasik Parsi (1977), Afrika yang Resah (1988).

Khususnya sejak penerbitan kumpulan Hujan Bulan Juni, yang disusul peluncuran album musikalisasi puisi karya-karyanya dengan judul yang sama, Sapardi Djoko Damono tidak ubahnya virus yang menyebar begitu cepat, memaksa orang untuk benar-benar menoleh ke karya sastra puisi.

Acara ini akan didukung oleh Ari-Reda, Jose Rizal Manua, Ine Febriyanti, Cornelia Agatha, Ags. Arya Dipayana, Lab. Musik Jakarta dan Paduan Suara Gita Swara Nassa. Sang penyair akan hadir dalam acara tersebut, untuk memberi kesempatan bagi masyarakat mengenal lebih dekat penyair pujaan mereka.

Harga tanda masuk untuk acara ini adalah Rp. 50.000 dan Rp. 30.000. Untuk informasi lebih lanjut dan pemesanan tiket dapat menghubungi Pusat Kesenian Jakarta TIM di telepon (021) 31937325 dan 31934740.


Penanggungjawab Acara:
Jose Rizal Manua (0811833161)
Ags. Arya Dipayana (0818709075)

Wednesday, May 16, 2007

becoming dew tiba di London

Pada suatu hari, Hendiarto --teman kami-- berangkat ke London. Yes, Hendiarto of Etnobook & Etnogallery. Bersamanya, ia bawa dua puluh cd :becoming dew. Sesampai di sana, cd dibagikan kepada banyak teman. Salah satunya kepada Liston.

".......dari tepi sungai Thames, di resto depan Tate Gallery, sambil makan
siang dengan Guiness+Heineken, aku dan Liston berangan tentang sukses
karir A+R...., ah semoga itu bisa diwujudkan... "[Hnd]
-- Hendi, aku tahu restoran itu: bir-nya memang melimpah, dan sup labunya yang hangat, luarbiasa! Berjalan sedikit, dan kau akan sampai di Millenium Bridge. Betul?

Pertemuannya dengan Liston tak berhenti pada makan siang. CD kami masuk tas Liston, lalu diputar di BBC, tempat Liston bekerja. Suatu sore, ketika perut sedang sangat tidak bersahabat, Liston menelepon. Kami mengobrol tentang pembuatan album, tentang lagu, tentang puisi. Banyak. Dan inilah hasilnya. Anda bisa klik ke www.bbcindonesia.com atau mencoba link yang terpasang, atau membaca yang tertulis di sini.

12 sajak di Becoming Dew
Becoming Dew
Musikalisasi 12 sajak Sapardi Djoko Damono
Sajak-sajak Sapardi Djoko Damono sudah berulang kali digubah ke dalam lagu, dan Ari Reda juga bukan pertama kalinya terlibat.

Namun Becoming Dew yang berisi 12 sajak Sapardi Djoko Damono, merupakan album komersial pertama Ari Reda.

Menurut Reda, yang sebelumnya pernah menjadi penyanyi sekaligus produser dalam musikalisasi puisi Gadis Kecil, kali ini musiknya lebih sederhana dengan petikan gitar Ari Malibu.

"Mungkin karena musiknya sederhana, sajak-sajaknya jadi lebih keluar," kata Reda kepada BBC Siaran Indonesia.

Reda juga merasa bahwa kali ini dia bisa tampil lebih santai karena sebelumnya dia lebih direpotkan oleh urusan-urusan tehnis.

Walau album Becoming Dew amat khas, namun Reda melihat ada pasar baru yang sebelumnya tidak ada.

"Penggemar kami mahasiswa dan juga eksekutif muda yang sebelumnya tidak mengenal Ari Reda," tambahnya.

Saya pernah mencoba irama rock untuk Lima Sajak Empat Seuntai, tapi Pak Sapardi tak suka
Ari Malibu

Ari Malibu dan Ari Gaudiamo pertama kali bertemu dan menyanyi pada tahun 1982, namun lebih banyak di lingkungan kampus Universitas Indonesia.

Seluruh sajak-sajak dalam Becoming Dew digubah oleh beberapa orang, antara lain AGS Aryadipayana, Budiman Hakim, maupun Ari Malibu dan Reda Gaudiamo sendiri.

Irama melankoli mendominasi album ini dan menurut Ari Malibu memang irama itulah yang cocok untuk sajak Sapardi.

"Saya pernah mencoba irama rock untuk Lima Sajak Empat Seuntai, tapi Pak Sapardi tak suka. Jadi mungkin ya irama melankoli dan seperti itu yang cocok," kata Ari.

Adapun Sapardi Djoko Damono mengatakan tidak ada perasaan istimewa dengan Becoming Dew karena karyanya sudah sering dijadikan lirik lagu.

Apakah tidak kuatir kalau sajaknya kelak dikenal lebih sebagai lirik lagu?

"Bagi saya tidak apa-apa, barangkali memang cocok untuk lirik lagu," katanya sambil tertawa lepas.


Sejauh ini kami berjalan. Jarak semakin jauh dan pemandangan semakin indah. Tentu tak akan pernah tercapai tanpa bantuan teman yang begitu penuh cinta mendukung Ari & Reda.

Hendi dan Liston, TERIMA KASIH!


Salam,
r


Monday, April 16, 2007

Tentang Upload & Download Lagu di Dunia Maya

Setelah menulis sedikit tentang rasa tak karuan menemukan 'Gadis Kecil' dengan mudah bisa di-download di dunia maya, saya menerima tanggapan dari beberapa teman. Ada Yo yang berbagi pengalaman: puisinya dicontek habis dan ditempelkan pada undangan kawin. Nama pengantin jadi nama penyairnya. Juga dari J A F Rane, sahabat luarbiasa saya yang bekerja di RSI - Radio Singapore International. Selain menyatakan turut berduka, Rane menambahkan berita baru, bahwa :becoming dew pun telah bernasib sama.

Astaga!

Rane lalu menelepon saya. Kami pun bicara soal yang satu itu.
Dan ternyata hasil pembicaraan itu dilansir ke udara. Bila teman-teman ingin membaca bentuk tulisannya, saya sertakan di sini.

Mengupload dan Mendownload Lagu MP3 di Internet?

http://www.rsi.sg/indonesian/pranala/view/20070413112600/1/.html

April 12, 2007

Berbagi lagu-lagu berformat mp3 di internet? Munngkin anda termasuk yang gemar melakukannya. Tapi tahukah anda bahwa itu menyangkut karya cipta orang lain?

Para penggemar musik Indonesia bisa jadi mengenal lagu Aku Ingin yang diambil dari karya puisi penyair terkenal Indonesia Sapardi Djoko Damono. Lagu ini bersama 10 lagu lainnya terdapat dalam album Gadis Kecil, sebuah album musikalisasi puisi karya Sapardi Djoko Damono yang di produksi dan dinyanyikan oleh Reda Gaudiamo dan Tatyana Soebiyanto pada tahun 2005 lalu. Nah, belum lama ini, ketika tengah berkorespondensi dengan seorang temannya di Perancis, Reda Gaudiamo -salah satu penyanyinya- mendapati bahwa lagu itu sudah bisa didownload di internet melalui salah satu situs multiply.com.

Bayangkan, anda sudah berusaha bertahun-tahun, mengumpulkan uang, minta ijin pada sang pemiliki syair, rekaman berbulan-bulan untuk menghasilkan sebuah album, namun kemudian ada orang lain yang dengan mudah menyebarkannya di internet? Reda Gaudiamo tidak perlu membayangkannya. Ada seseorang yang memasang ke 11 lagunya itu di internet dengan menggunakan layanan multiply dot com yang memamng memungkinkan siapapaun mengupload lagu-lagu berformat digital seperti mp3 dan kemudian bisa didownload siapapun juga tanpa harus membeli cd aslinya. Reda kemudian meninggalkan pesan kepada si pemilik situs multiply tersebut agar yang bersangkutan meminta izin kepada sejumlah orang yang terlibat produksi album itu. Apa reaksi yang didapatnya?

Si pemilik situs multiply justru balik marah-marah karena merasa terganggu. Nah, masalahnya yang terjadi disini adalah fakta bahwa si pemilik situs multiply marah-marah karena merasa terganggu oleh orang yang justru adalah pemilik asli karya tersebut menunjukkan bahwa jangan-jangan memang banyak yang tidak tahu bahwa menyebarkan karya orang lain dalam hal ini lagu berformat mp3 tanpa izin itu adalah melanggar hak cipta.

Menurut Rapin Mudiardjo, SH dari Information and Communication Technology Watch atau ICT Watch, secara hukum hak cipta akan langsung muncul begitu karya itu selesai dibuat. Jadi tidak perlu didaftarkan lagi karena otomatis sudah muncul. Tentu asal si pemilik karya cipta bisa membuktikannya.

Karena itulah pelanggaran hak cipta tentu saja adalah pelanggaran hukum. Masalahnya, di Indonesia, peraturan hukum yang mengatur pelanggaran hak cipta secara digital ini menurut Rapin belum banyak disentuh

Menyebarluaskan karya cipta orang lain tanpa izin di internet memang melanggar hukum. Tapi menurut aturan hukum yang berlaku di Indonesia, -seperti penjelasan Rapin tadi- hukum baru bisa menyentuh jika yang terjadi adalah penyebarluasan karya orang untuk mengambil manfaat secara ekonomi. Ini yang menjelaskan mengapa orang jualan cd berisi MP3 atau lagu bajakan bisa ditangkap, tapi jika itu disebarluaskan di internet tanpa maksud untuk menjualnya, ini belum disentuh oleh aturan hukum.

Namun anda yang gemar mengupload dan berbagi lagu mp3, jangan keburu senang dulu. Minimnya aturan hukum bukan berarti tidak ada yang bisa diperbuat. Dalam kasus yang dialami Reda Gaudiamo misalnya, jika kita membaca aturan main yang disediakan oleh Multiply.com, maka kalau misalnya sang pemilik karya cipta bisa membuktikan kepada multiply bahwa karya yang di sebarkan lewat layanan mereka itu adalah miliknya, maka proses hukum bisa dijalankan. Server multiply memamgn bisa jadi secara fisik tidak berada di Indoensia, namun jangan lupakan bahwa IPR atau intelectual property rights atau hak cipta intelektual itu adalah hukum internasional

Dengan kata lain, walaupun akan memerlukan proses yang panjang dan mungkin rumit, jika sang pemilik karya itu ingin berjuang menuntut haknya yang dilanggar orang lain, jalan masih terbuka lebar walaupun hukumnya belum banyak diantisipasi di Indonesia.

Nah, kembali ke kasus yang dialami Reda Gaudiamo tadi, ketika menyadari karya nya disebarkan orang lain tanpa izin, akankah ia menuntut secara hukum? Dengan tegas ia mengatakan tidak terpikirkan untuk sampai ke sana.

Bagi Reda lebih dari soal hukum, yang justru mengkhawatirkan baginya adalah karena pelanggaran hak cipta ini bisa terjadi karena orang belum banyak tahu atau bahkan karena budaya melanggar hak cipta itu sudah membudaya menjadi sebuah perilaku. Tapi apakah itu akan mencegahnya untuk terus berkarya?

Ya, banyak yang mengatakan bahwa dunia internet adalah dunia yang bebas. Di alam maya atau alam saiber orang bebas berpendapat dan bebas menjadi siapa saja atau melakukan apa saja. Tapi jangan pula lupakan bahwa mentang-mentang bebas, berarti kita bisa melakukan apa saja dan tidak memberikan penghargaan kepada karya orang lain. Ini lebih dari sekedar soal hukum. Ini soal penghargaan pada apa yang telah dilakukan susah payah oleh orang lain, karena tentu anda juga ingin dihargai upayanya oleh orang lain juga, bukan?"

dikutip sesuai aslinya atas ijin RSI
sumber:http://www.rsi.sg/indonesian/pranala/view/20070413112600/1/.html

Demikianlah...
Seperti yang sudah tersampaikan lewat omong-omong di radio-nya J A F Rane, urusan bajak-membajak tak akan menyurutkan langkah kami. Langkah saya. Ketika sudah sampai di sini, berhenti bukan pilihan yang perlu dipertimbangkan. Rem sudah putus sejak lama. Saya hanya berharap bahwa siapa pun yang ingin mendown-load (juga yang mengupload) lagu-lagu milik siapa saja, mungkin perlu berfikir kembali. Perlukah itu dilakukan? Bagaimana bila yang dilakukan adalah mendukung para pembuat musik. Misalnya dengan membuat review, mempromosikan, mengajak teman-teman untuk memiliki sendiri album/cd yang disuka....
Itu yang saya usulkan sambil kita semua belajar menghargai karya yang sudah diciptakan dengan susah payah.

Dan untuk J A F Rane: terima kasih yang amat sangat sudah mengangkat masalah ini ke udara. Terima kasih untuk dukungan yang tak pernah surut.

selalu,
r

Monday, March 19, 2007

pada suatu hari...

saya mendapat kabar,
bahwa lagu musikalisasi puisi album terdahulu (gadis kecil)
dengan mudah bisa di-download via internet.

pada suatu hari, saya mencoba berkunjung ke alamat itu
dan terbukti bahwa kabar yang disampaikan itu benar adanya.
lalu bertanyalah saya, adakah pemuatan lagu itu
telah dimintakan ijinnya pada yang membuatnya?
atau setidaknya pada pemilik sajak?

jawaban yang datang tak bisa dibuka.
tetapi setelah itu, saya tahu bahwa sang pelaku marah besar.
saya telah mengganggu kerjanya. Begitu katanya...

saya tak mengerti.
bukankah harusnya saya yang harusnya boleh berapi-api?
(tapi toh tidak saya lakukan).
bukankah harusnya saya boleh mengejar jawaban
dan alasan mengapa ini terjadi?
(tetapi tak bisa dilakukan
karena pelakunya kemudian menghilang dari ruang maya)

hari ini,
saya kembali melihat apa yang telah kami perbuat selama ini.
mungkin buat banyak orang, ini kerja kecil.
tetapi buat kami, ini sungguh istimewa.
karena kami membuatnya dengan hati, dengan rasa,
dengan tenaga dan segala yang kami punya.
begitu selesai, kami ingin karya ini bisa dinikmati banyak orang
dengan cara yang seharusnya.

ketika kemudian ada yang mengambilnya begitu saja,
tanpa memberi kabar terlebih dahulu,
hati kami terluka.

sangat.

r








Monday, February 12, 2007

14 Februari: Hari Burung Kolibri Merah Dadu


Teman-teman,
Klub Sastra Bentang mengundang Anda dalam acara
peluncuran kumpulan cerita cinta Kurnia Effendi, Burung Kolibri Merah Dadu,
pada tanggal 14 Februari 2007, jam 19.00
di MP Book Point, Jl. Puri Mutiara Raya 72,
Jeruk Purut, Jakarta Selatan.

Jadikan malam itu sebagai ajang bernostalgia Back to Eighties, silaturahmi antarkomunitas dan miliser (antara lain Apresiasi Sastra, komunitas Leo Kristi, FSRD ITB, Komunitas Sastra Indonesia , BungaMatahari, dll) untuk berbincang perkara cinta.

Mengapa cinta? Karena setiap penciptaan dan
kehidupan mustahil tumbuh tanpa cinta.

Acara ini dimeriahkan dengan senandung dan pembacaan
cerpen bersama Feby Indirani, Wulan Guritno,
dan Anya Rompas. Senandung lagu puisi oleh Ari.Reda (mau request lagu?)
Pembahasan perjalanan pengarang disampaikan oleh
Arya Gunawan dan Ryana Mustamin.
Dihiasi happening art oleh Indra Gunadharma,
dan sejumlah doorprize menunggu kehadiran Anda.

Bagi yang ingin menjadikan buku ini sebagai kado
atau souvenir, dapat diperoleh di toko buku Jakarta ,
Bandung , Yogya, dan sekitarnya.
Menyusul kota-kota lain di Indonesia.